Profil UMKM Roti Gembong Gedhe Yogyakarta

Profil UMKM Roti Gembong Gedhe Yogyakarta

Profil UMKM Roti Gembong Gedhe Yogyakarta

Siapa nih yang baru lihat roti viral di Yogyakarta? Namanya roti gembong yang merupakan roti jadul mirip roti sobek dengan tampilan besar, mengembang dan berisi dengan aneka rasa seperti coklat dan varian lain. 

Roti ini awalnya merupakan roti jadul usaha mikro kecil dan menengah yang kemudian mengalami perkembangan menjadi usaha besar. 

Adalah Rifawan Pradipta Utama, seorang mahasiswa pendiri Roti Gembong Gedhe Yogyakarta yang melakukan perubahan usaha UMKM roti gembong tradisional menuju modern. 

Pria yang akrab disapa Adib ini menyampaikan bahwa roti tradisional ini berasal dari daerah Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. 

Pada zaman dahulu disebut dengan roti sobek yang dijajakan melalui gerobak dorong dan toko-toko kelontong.

Adib membawa kenangan roti sobek jadul ini ke Yogyakarta dengan tampilan yang berbeda. Tidak lagi dijajakan ala model gerobak dorongan atau toko-toko kelontong tetapi menggunakan outlet. 

Perubahan ini disertai dengan tampilan roti sobek yang lebih menarik dengan menjadi roti gembong gedhe varian rasa. 

Serta dijual dengan sistem seperti outlet fast food modern ala McDonalds dan KFC.

Berkat inovasinya, kini outlet-outlet Roti Gembong Gedha di Yogyakarta yang awalnya hanya dibuka dua sampai empat outlet telah merambah menjadi 103 outlet. 

Bahkan terus mengalami pertumbuhan tajam di masa paska covid-19 dan fase pemulihan ekonomi yang disertai dengan membanjirnya wisatawan ke Kota Yogyakarta. 

Adip bercerita pada awalnya memperkenalkan model baru roti sobek bernama Roti Gembong Gedhe ke masyarakat Yogyakarta ini susah dan sulit sekali. 

Awal-awal membuat roti dari satu adonan menjadi 40 buah roti. Adip membuat dua buah adonan dan terbentuk 80 roti. 

Seluruh roti harus dijajakan dan hanya dibeli oleh sanak-saudara dan teman kenalan saja.

Periode selanjutnya, bahkan lebih parah. Karena adonan roti yang telah dibuat dan menjadi roti sering tidak laku. 

Adib mengaku bahkan di awal-awal roti-roti yang telah dibuat akhirnya dibagikan kepada masyarakat di jalanan. Tetapi justru inilah titik balik sesungguhnya. 

Karena seringnya membagi-bagikan roti di jalanan kepada masyarakat umum, akhirnya masyarakat Yogyakarta mulai mengenal dengan adanya merk roti baru bernama Roti Gembong Gedha. 

Kini omset penjualan roti Gembong Gedhe berhasil mencapai angka penjualan roti per hari 300 roti. Jika satu roti berharga Rp20.000 saja, maka sehari mendapat omset 6 juta rupiah hanya dari satu outlet. 

Bayangkan jika dikalikan dengan 100 outlet, maka omset hariannya mencapai angka 600 juta. Dari usaha UMKM kemudian naik kelas menjadi usaha besar. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.