UMKM, Si Kecil Berkontribusi Besar Untuk Perekonomian

Begitu banyak UMKM yang merajai perekonomian di Indonesia yang diharapkan bisa menjadi tonggak perekonomian di Indoenesia. Walau merupakan usaha yang berskala kecil, namun bisa memberikan dampak yang signifikan untuk perekonomian Indonesia. UMKM adalah satu-satunya yang bisa bertahan disaat Indonesia mengalami krisis moneter di tahun 1998 yang mana pada saat itu perusahaan-perusahaan besar gulung tikar. Oleh karena itu, UMKM di Indonesia perlu dibudidayakan dan difasilitasi agar lebih bersemangat untuk mengembangkan usahanya. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan UMKM di Indonesia dengan memfasilitasi pelaku usaha baru maupun UMKM yang telah ada untuk semakin mengembangkan usaha dengan menggelar sosialisasi maupun pelatihan di berbagai daerah di Indonesia. 

Secara gabungan, skala kegiatan ekonomi UMKM memberikan kontribusi sekitar 60% terhadap total Pendapatan Domestik Bruto Indonesia. Pada 2017 lalu PDB Indonesia sekitar Rp13.600 trilyun. Dengan demikian, artinya total pendapatan UMKM adalah sekitar Rp8.160 trilyun! Usaha Mikro menyumbang sekitar Rp5000 trilyun per tahun, Usaha Kecil Rp1300 trilyun, Usaha Menengah sekitar Rp1800 trilyun; dan Usaha Besar sekitar Rp5400 trilyun. Jika angka di atas dibagi dengan jumlah unit UMKM, maka dapat diperkirakan besaran rata-rata omset atau pendapatan untuk Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Besar, yang hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel di atas menunjukkan bahwa produktifitas per unit usaha memang mengalami peningkatan sejalan dengan kategori skala usahanya. Usaha Mikro hanya memiliki rata-rata pendapatan usaha sekitar Rp85 juta per tahun atau Rp283 ribu per hari; Usaha Kecil Rp1,84 milyar per tahun atau Rp.6,1 juta per hari; dan Usaha menengah Rp28.5 milyar per tahun atau sekitar Rp95 juta per hari. Sementara rata-rata pendapatan Usaha Besar adalah sekitar Rp1.1 trilyun per tahun atau Rp3,6 milyar per hari (asumsi 300 hari per tahun). Hal ini berarti produktifitas Usaha Besar 11.760 kali lipat lebih besar daripada Usaha Mikro, 543 kali lipat daripada Usaha Kecil, dan 38 kali lipat daripada Usaha Menengah.

Walaupun demikian, masih diperlukan banyak pendampingan yang terstruktur agar Usaha Mikro dapat meningkatkan efisiensi produksi, produktifitas, dan daya saingnya dengan UMKM-UMKM lainnya. Di sisi lain, pelaku Usaha Mikro juga perlu membuka diri terhadap kebaruan teknologi, khususnya dalam memanfaatkan berbagai solusi digital yang dapat memperluas pasar sekaligus menekan berbagai biaya produksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *