Tua-tua Ikut Pelatihan IT, Ternyata Bukan Hanya Anak Muda yang Suka IT

Bukan Tua-tua Keladi melainkan Tua-tua main IT, itulah yang terjadi pada Pelatihan IT gelaran Meravi.id, pertengahan Maret lalu. Kali ini, para peserta pelatihan Teknologi Informasi sama sekali bukan anak-anak muda melainkan orang-orang yang rata-rata di atas 45 tahun. Tapi mereka sangat bersemangat.

Siapa bilang Pelatihan Teknologi Informasi alias IT hanya menarik bagi anak-anak muda. Buktinya, empat orang peserta Pelatihan IT yang digelar Meravi.id pada awal Maret 2019 lalu malah diikuti empat peserta yang semuanya sudah ‘berumur’. Tapi jangan salah, meski sudah tak muda lagi, mereka dengan antusias mencermati halaman demi halaman dari layar laptop mereka mempelajari Google Adsense yang dipaparkan pemateri.

Keruan pelatihan ini menjadi unik. Biasanya, pelatihan Google Adsense, pembuatan website dan tetek-bengek mengenai urusan internet begini hanya disukai anak-anak muda. Tapi empat bapak ini berbeda, mereka datang dengan semangat 45. Mereka adalah Martandang Adhi, Ketut Eryanton, Samuel Dwi Handayanto dan Sugeng Sugianto. Tapi yang paling unik adalah, mereka ini satu kelompok pertemanan yang sangat kompak padahal keempatnya memiliki profesi yang berbeda-beda, tempat tinggal berjauh-jauhan dan bahkan memiliki keyakinan yang juga berbeda.

Pak Sugeng Sugianto yang biasa disapa Papi, karena paling sepuh di antara tiga lainnya adalah pengusaha aspal dari Surabaya. Papi sudah biasa mondar-mandir Indonesia – Amerika untuk mengurus bisnisnya. “ Soalnya pula anak-istri saya tinggal di Amerika. Tapi saya ini cinta banget Indonesia, jadi tetap tinggal di Surabaya,” katanya kepada KejarUMKM.

Lain Papi lain si Martandang Adhi. Tinggal di Magelang Adhi adalah pengusaha dengan pengalaman beragam jenis usaha. Hingga akhirnya jatuh cinta pada dunia maya. “ Sekarang saya hobi menulis dan sangat tertarik mengelola website sendiri untuk menyalurkan hobi saya sekaligus memasarkan produk perusahaan yang saya kelola,” katanya. Tulisan Adhi lebih banyak mengenai analisa sosial dengan gaya penulisan satir.

Lain lagi Ketut Eryanton. Dari namanya jelas Ketut berasal dari Pulau Dewata. Ketut adalah pemilik Kedai Kopi Bali yang bercita-cita membangun kedainya menjadi kedai khas Kopi Bali yang harus dikunjungi semua orang yang berwisata ke pulau indah ini. “ Makanya saya belajar bagaimana mengelola web untuk promosi produk atau usaha. Saya sangat senang mengikuti pelatihan ini. Ternyata media digital sangat ampuh membangun jaringan pemasaran dan branding,” ujar Ketut.

Satu lagi peserta yang paling muda bernama Samuel Dwi H.  Tinggal di Solo, Jawa Tengah, Samuel adalah pengusaha produk kesehatan herbal modern dengan standar kualitas yang teruji. Si Samuel tak hanya berjualan produk kesehatan tetapi juga memiliki pengetahuan yang luas mengenai berbagai khasiat dan fungsi beraneka jenis tanaman yang tumbuh di Indonesia. “ Saya ingin membangun web yang berisi informasi beragam jenis khasiat dan fungsi tanaman-tanaman yang selama ini tumbuh di sekitar lingkungan rumah orang-orang di negeri ini. Sehingga kesehatan masyarakat menjadi bukan lagi pengetahuan yang mahal bagi kita semua,” katanya.

Mereka berkisah, persahabatan yang unik ini dimulai beberapa tahun lalu ketika mereka mulai tertarik bisnis investasi online. “ Sejak itu kami akrab padahal belum pernah ketemu darat,” ujar Papi yang dianggap tetua kelompok merangkap juru bicara. “ Lalu kami memutuskan untuk ikut pelatihan ini bersama. Dari pelatihan ini kami menjadi tahu ternyata dunia digital jauh lebih luas dari yang kami kira. Kami menjadi lebih bersemangat lagi,” kata Papi, Si Juru Bicara.

Hal paling mengesankan dari empat orang ini adalah, mereka tinggal di tempat berjauhan dengan karakter sosial yang berbeda-beda tetapi mereka memiliki jalinan persahabatan yang kuat. Tapi yang paling unik adalah, keempat orang ini memiliki keyakinan yang berbeda. Papi beragama Budha, Ketut meyakini Hindu, B memeluk seorang muslim dan si D penganut Katolik yang taat. Dengan cara yang unik, perbedaan-perbedaan itu justru membuat hubungan pertemanan kelompok ini menjadi berwarna dan dinamis. Mereka adalah wujud nyata dari Bhinekka Tunggal Ika yang agung itu.

Pelatihan kerjasama Meravi.id dan Bumdes.id ini digelar di Gedung Syncore Indonesia Jalan Solo KM 9,7, Yogyakarta. Ini adalah pelatihan yang diperuntukkan bagi anak-anak muda pegiat Start Up maupun pelaku UMKM yang ingin memiliki pengetahuan dan kemampuan digital untuk meningkatkan kapasitas usahanya melalui jaringan digital.

Ahmad Fahrudin, salahsatu pemateri menyatakan, materi pelatihan yang dibawakannya memang dirancang untuk bisa dipahami dengan mudah oleh kalangan pelaku UMKM bahkan UMKM yang ada di pedesaan. “ Jadi tidak ada masalah mengenai peserta meski peserta bukan anak muda penyuka internet misalnya. Kami sudah merancang pola pelatihan yang memudahkan semua orang memahami materinya,” kata Ahmad yang juga seorang profesional di bidang IT ini. Apa kehebatan pelatihan bersama Meravi.id?

“ Kami bukan hanya memberikan materi di kelas saja tetapi juga melakukan pendampingan paska pelatihan. Kami siap menjadi konsultan atau melakukan pendampingan pada proyek yang dikerjakan peserta latih,” ujar Ahmad. Apakah pendampingan dan konsultasi itu berbayar? “ Tergantung jenis proyeknya. Ada yang gratis jika itu memang bagian dari pelatihan. Tetapi jika itu proyek yang baru dan mengharuskan adanya materi-materi tambahan yang baru, maka akan ada biaya tersendiri,” kata Ahmad.

Tapi jangan kawatir kalaupun Anda misalnya harus mengeluarkan isi kantung untuk program lanjutan. “ Pelatihan ini memberikan banyak pandangan baru, pengetahuan baru dan keterampilan baru, jadi tetap banyak keuntungannya untuk peserta. Mau ikut pelatihan sepert ini? Buka www.meravi.id dan pilih saja jenis pelatihan apa yang ingin Anda ikuti. (aryadji/kejarumkam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *