Ceklah Kesehatan Keuangan Usaha Anda

Kamis 9/8/2018, tim kita SMC dan KJA berangkat untuk menjalani acara yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di PLUT Jl. HOS Cokroaminoto Yogyakarta. Pelatihan Wirausaha Baru Bank Indonesia dengan Aplikasi Keuangan SiAPIK namanya. SMC dan KJA dalam hal ini akan membuka stand dan akan melayani para corporate – corporate baru. Apa yang menjadi basis layanan SMC dan KJA ?

Basis layanan SMC dan KJA adalah menjadi dokter umum untuk para corporate – corporate muda dan baru. Mereka akan mendiagnosa permasalahan – permasalahan yang mungkin dialami oleh para corporate muda dan baru. Masalah diagnosa ini kita didampingi oleh dokter senior Syncore. dr. Rudy Suryanto.

Namun bagaimanakah dr. Rudy Suryanto ini bekerja ? Apakah menggunakan stetoskop layaknya dokter ? Tentu saja ya…. Tanpa bantuan alat stetoskop dokter akan gamang menentukan diagnosa dan obat yang akan ditulisnya.

Yuk kita tengok seperti apakah bentuk stetoskop dr. Rudy Suryanto ?

Rudy Suryanto mendeteksi hal yang paling sederhana lebih dahulu :

  1. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban / utang lancar. Jamak kita tahu arti likuid yang artinya cair. Suatu kesehatan usaha dapat dideteksi dari tingkat likuid / kemudahan dalam mencairkan dana untuk membayar kewajiban / utang yang umur nya kurang dari 1 (satu) tahun.

Salah satu Rasio Likuiditas adalah Cash Ratio. Contohnya : Saldo kas usaha = Rp. 10.000.000,- sedangkan saldo utang dagang Rp. 8.000.000,-. Maka bila kita bandingkan

Cash Ratio = (Kas / Utang),

Cash Ratio = 10.000.000 / 8.000.000 = 1,25 : 1 artinya Kas yang tersedia 0,25 lebih banyak dari utangnya. Dan ini sehat. Apabila yang terjadi sebaliknya saldo kas usaha = Rp. 5.000.000 dan Saldo utang dagang Rp. 10.000.000,- maka Cash Ratio nya adalah 0,5 : 1 artinya Kas yang tersedia kurang 0,5 untuk menutup utang dagangnya. Dan artinya kurang sehat. Perlu di cek kondisi persediaan ataupun piutang usaha dari corporate tersebut.

  1. Rasio Leverage / Rasio Hutang

Rasio ini mengukur seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Berutang untuk suatu usaha adalah hal yang lazim. Hanya saja porsi besarnya utang dibandingkan dengan modal berapakah yang ideal, kebanyakan kita belum memahaminya.Salah satu Rasio, gunakan rasio

Debt To Equity Ratio (DER) = (Utang lancar + Utang Jk. Panjang) / Modal Sendiri.

Contoh : Modal = Rp. 10.000.000, sedangkan Utang Dagang = Rp. 2.000.000 dan Utang Leasing Rp. 7.000.000 maka Rasio DER = 9.000.000 / 10.000.000 = 0.9 : 1. Artinya Modal usaha dapat menutup 10 % Jumlah Utang Jk Pendek dan Panjang.

Nilai yang dizinkan dari Suatu DER adalah 4 : 1 . Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 169/PMK.010/2015 . Hal ini dikecualikan untuk badan usaha perbankan, pembiayaan, asuransi dan reasuransi.

  1. Rasio Profitabilitas / Rasio Keuntungan

Rasio ini mengukur seberapa besar kemapuan perusahaan memperoleh laba baik rasio laba terhadap penjualan, laba terhadap asset, maupun laba terhadap modal sendiri. Salah satu Rasio ini adalah

Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak / Penjualan Nett.

Contoh : Laba bersih setelah pajak Rp. 10.000.000 sedangkan penjualan Nett (Penjualan setelah dikurangi retur) adalah 100.000.000 maka Rasio NPM = 10.000.000 / 100.000.000 = 1 : 10 . Dengan kata Lain Laba yang bisa dihasilkan adalah 10 % dari penjualan, merupakan hal yang positif untuk suatu usaha baru.

Sebenarnya masih banyak lagi Rasio – rasio yang bisa digunakan untuk mendeteksi kesehatan suatu Usaha. Namun kami tidak dapat menjelaskan detail mengingat keterbatasan media dan waktu.

Namun yakinlah bahwa tidak ada yang ajaib dari pemeriksaan ini, namun hal logis yang dapat dipelajari oleh setiap orang.

Oleh: Wibisono / Konsultan SMC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *