Apakah Usaha Anda Bankable?

Pertanyaan utama yang yang muncul pada saat UMKM mengajukan pinjaman modal di bank adalah tentang prospek usaha yang dijalankan. Apakah usaha yang dijalankan itu akan sustain? Bagaimana proyeksi pendapatan dan biayanya? Hal itu menjadi momok tersendiri bagi UMKM ketika akan menghadapi perbankan.

Suatu usaha bisa dikatakan layak dilakukan atau “bankable” haruslah memiliki laporan keuangan yang mencerminkan prospek perusahaan serta menunjukkan bahwa usaha tersebut dapat tumbuh secara konsisten. Banyak pelaku UMKM yang masih melakukan pencatatan dengan feeling saja tanpa ada pemisahan kekayaan pribadi dengan kekayaan perusahaan.

Sebagai contoh, Pak Sanusi memiliki modal awal sebesar 20 juta yang digunakan untuk usaha pecel lele, setiap bulan rata – rata penjualan sebesar Rp 30 juta, belanja bahan Rp 20 juta. Untuk sewa tempat, listrik dan air Rp 7 juta, gaji karyawan Rp 5 juta. Artinya setiap bulan Pak Sanusi harus nombok 2 juta. Jika kondisi tersebut terus berlangsung selama 10 bulan, pastinya modal awal pak sanusi sebesar 20 juta akan lenyap, atau bisa dikatakan bangkrut.

Motivasi UMKM untuk mengajukan pinjaman permodalan di bank biasanya didasari oleh 2 hal yaitu tambal sulam, seperti contoh Pak Sanusi atau untuk pengembangan usaha. Sebagai pengusaha tentunya banyak cara agar tidak mengalami kebangkrutan. Selain meningkatkan penjualan dengan berbagai strategi, hal yang lebih utama adalah memperhatikan komponen pemasukan dan pengeluaran. Pemasukan artinya penjualan, tanpa penjualan berarti tidak ada pemasukan. Sedangkan pengeluaran adalah biaya – biaya yang timbul dari kegiatan usaha kita. Jadi wajib hukumnya melakukan pemisahan pengeluaran pribadi dan pengeluaran usaha.

Pencatatan keuangan merupakan rutinitas wajib yang harus dilakukan pelaku usaha. Hal ini penting dilakukan untuk melihat cash flow, apakah usaha yang dijalankan untung dan berapa keuntungannya. Nah, bila usaha yang dijalankan memiliki prospek bagus tentunya perbankan juga akan mudah mengucurkan pinjaman permodalan.

Untuk membantu pelaku UMKM dalam membuat pencatatan kegiatan usahanya baik UMKM perorangan maupun badan usaha, Bank Indonesia telah meluncurkan aplikasi pencatatan transaksi keuangan berbasis android yang dikenal dengan nama SIAPIK (Sistem Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan). Aplikasi ini berjalan secara offline (tidak membutuhkan koneksi internet) untuk membuka menu dan fitur-fitur nya, disain aplikasinya tidak terlalu ramai, fleksibel dan mudah digunakan. Yang tak kalah penting adalah menu laporannya sudah komplit antara lain laporan neraca, laba/rugi, arus kas, rincian pos keuangan  dan beberapa laporan kinerja keuangan lainnya.

Aplikasi ini dapat diunduh gratis di Play Store ataupun App Store. Mari lakukan pencatatan keuangan dan jadikan usaha anda bankable.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *